Super model jumbo pedukuhan pun sedikit grogi

Salah satu peserta lomba keluwesan antar pedukuhan sedang berlenggak-lenggok di Balai Desa Condongcatur, Depok

Tik..tak…tik…tak,,,suara langkah kaki seorang wanita setengah baya. Gaya berjalannya yang sedikit unik mengundang tawa orang-orang yang memperhatikan dirinya. Meski sedikit grogi, si wanita tetap melangkahkan kaki sambil mencoba tetap tersenyum.

Dia tidak sendirian. Di belakangnya, satu-persatu wanita setengah baya lainnya bermunculan. Semuanya mengenakan kebaya anek warna dan jarik serta sanggul bermacam gaya. Semuanya saling pamer keluwesan dalam berlenggak-lenggok.

Di Balai Desa Condongcatur, Depok, para wanita yang semuanya bertubuh subur tersebut saling adu kebolehan dalam menunjukkan keluwesan. Mereka mencoba menjadi yang terbaik dalam perlombaan yang digelar dalam menyambut hari Kartini tersebut.

Berbeda dengan fashion show pada umumnya yang biasanya menampilkan para model bertubuh kurus dan langsing, pada ibu-ibu ini justru semuanya bertubuh gemuk. Persyaratan untuk ikut lomba ini juga tidak mudah. Para peserta wajib memiliki berat badan di atas 70 Kg.

Tidak hanya itu saja, mereka juga harus bersaing menjadi terbaik dalam seleksi di pedukuhan sehingga akhirnya bisa tampil di putaran final. Akhirnya terpilihlah sebanyak 23 orang model jumbo bintang pedukuhan.

Bagi para peserta sendiri acara ini memang tidak sebagai ajang ngotot-ngototan. Gelaran ini hanyalah satu di antara banyak acara yang bisa dilakukan dalam memeriahkan Hari Kartini yang biasa diperingati pada 21 April.

Supartini, 41, misalnya, menganggap lomba keluwesan tersebut tak ubahnya sekedar silaturahmi dengan rekan-rekan sejawat di PKK Condongcatur. Meski begitu, dia mengaku bangga dengan apa yang sudah dia lakukan.

Ia mengaku mencoba untuk santai ketika mendapat giliran untuk maju memamerkan keluwesannya dalam berlanggak-lenggok di hadapan para penonton. Berbakal kepercayaan diri yang tinggi dia bisa melewati satu menit yang menegangkan tersebut.

Wanita dari pedukuhan Kaliwaru ini pun rela meminjam beberapa asesoris agar terlihat cantik saat lomba digelar. Baginya, hal itu tetap merupakan sebuah perjuangan seperti saat RA Kartini memperjuangkan emansipasi wanita.

“Agak kagok sih, maklum baru kali ini saya ikut acara yang agak aneh ini. Tapi saya bangga dengan segala asesoris yang saya pakai,” ungkap dia.

Sementara itu, salah satu panitia Sri Sejatiningsih emngungkapkan lomba keluwesan model jumbo tersebut memang baru kali ini digelar. Idenya, PKK Condongcatur mencoba keluar dari pakem soal peragaan busana.

“Kalau yang ramping-ramping itu sudah biasa. Justru kali ini kami ingin mencari nuansa lain,” ungkap dia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: