Masih ada asa untuk desa wisata

Beberapa tahun terakhir ini geliat pertumbuhan desa wisata kian meredup. Meskipun masih bertahan, desa-desa wisata itu sepi pengunjung. Bahkan ada beberapa di antaranya yang hanyameninggalkan papan nama saja di jalan masuk desa.

Permasalahan yang dihadapi desa wisata sebenarnya cukup klasik yakni gulung tikar karena tak berhasil menarik pengunjung. Padahal, sukses tidaknya operasional desa wisata tergantung dari jumlah kunjungan wisatawan.

Selain itu, desa wisata juga kerap terbentur dengan urusan manajemen. Pengelolaan yang hanya mengandalkan figur-figur tertentu saja seringkali menghambat eksistensi desa wisata. Tidak mengherankan jika pada akhirnya beberapa diantaranya mati suri karena tidak ada yang mengelolanya.

Namun ternyata pengalaman buruk yang dialami oleh beberapa desa wisata di Sleman tidak membuat desa-desa lainnya mengurungkan niat untuk meraih peruntungan. Modusnya memang bermacam-macam, ada yang ingin sekedar tampil, memanfaatkan potensi desa atau karena alasan untuk melestarikan budaya tradisional.

Berbeda dengan desa-desa yang sudah lempar handuk, desa yang ingin mengembangkan desa wisata di wilayahnya masih dipenuhi optimisme. Pasalnya potensi yang ada dinilai layak untuk dikomersialkan.

Desa Tegaltirto misalnya, berusaha untuk memaksimalkan pembangunan embung di wilayahnya. Menurut kepala Desa Tegaltirto Wahyu Susilo Nugroho, di areal embung dusun Candirejo yang luasnya mencapai 6 ribu meter persegi.

Menurut Wahyu, selain untuk keperluan irigasi, embung yang diperkirakan rampung tahun ddepan ini juga akan diproyeksikan sebagai ekowisata dan konservasi air. Menurut dia, potensi tersebut akan dikombinasikan dengan wahana wisata yang ada di Gunungbangkel yang digunakan sebagai area outbond, campground, dan offroad.

“Selain itu desa kami masih memiliki potensi wisata budaya dan seni seperti ketoprak, wayang maupun gejug lesung. Kami juga sering mengagendakan lomba-lomba wisaya budaya. Nantinya kalau embung sudah jadi, semuanya bisa dikombinasikan,” ungkap dia.

Desa Sambirejo, Prambanan juga tidak mau ketinggalan dalam mengolah potensi desa. Sama dengan desa-desa lain yang ada di kecamatan Prambanan, Sambirejo memiliki sejumlah objek wisata penginggalan purbakala seperti Candi Ijo, Candi Barong, Candi Miri, Candi Tinjon, Arca Dawang, Arca Gumarang, dan Arca Gupala.

Kepala Desa Sambirejo Sukardi mengatakan, pihaknya memiliki rencana untuk memberdayakan potensi wisata untuk mengangkat perekonomian masyarakat setempat yakni dengan mengembangkan konsep candi terpadu.

“Kami sudah mempresentasikannya ke provinsi dan ditanggapi cukup baik. Kami masih menunggu realiasinya. Meskipun nantinya pengelolaan candi terpadu akan diambilalih oleh pemerintah, namun paling tidak lapangan kerja lebih terbuka,” ungkap dia.

Wakil Ketua DPRD Sleman Endri Nugraha Laksana mengingatkan agar Pemkab tidak menelantarkan konsep desa wisata yang dikembangkan oleh desa-desa di Sleman. Menurut dia, jika memang potensi yang ada sudah dimanfaatkan, selayaknya pemkab juga membantu desa-desa tersebut untuk promosi.

“Bisa saja Pemkab mengembangkan sistem paket sehingga berpotensi menahan wisatawan lebih lama di Sleman. Paket yang ditawarkan misalnya saja pendidikan, pertanian, dan budaya,” ungkap dia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: