Kandidat mulai tebar janji

Memasuki masa kampanye terbuka, para kandidat yang tampil sebagai kontestan Pilkada Sleman mulai perang janji-janji. Meski sebagian besar menghindari kampanye yang sifatnya rapat terbuka, namun dalam setiap kali kesempatan berdialog ataupun memaparkan visi-misi di depan khalayak, para kandidat tak lupa menebar janji optimisme.

Kandidat yang diusung oleh koalisi 23 partai Sukamto mengatakan pihaknya telah menyiapkan program 100 hari yakni menyiapkan kartu kesehatan gratis bagi warga miskin. Dengan kartu sakti tersebut, kata dia, warga miskin tak lagi perlu harus berurusan dengan rumitnya birokrasi seperti yang terjadi dalam pelayanan Jamkesos, Jamkesmas ataupun JPKM.

“Jika saya terpilih, maka hal pertama yang akan saya lakukan adalah pendataan warga miskin yang selanjutnya akan diberi fasilitas kartu kesehatan. 100 hari setelah saya terpililh, kartu itu harus sudah janji dan mulai bisa diberlakukan pada tahun berikutnya,” kata dia.

Sukamto beralasan, meski kartu telah selesai, namun tidak serta merta birokrasi soal kartu kesehatan selesai juga. Menurut dia, butuh waktu untuk menyiapkan semua urusan regulasi sehingga nantinya program tersebut baru bisa dilakukan pada awal tahun depan.

Kandiat independen Bugiakso melihat bahwa Sleman telah kehilangan jati diri terutama dalam dua bidang yakni pertanian dan pendidikan. Jika terpilih, dia berjanji kedua hal tersebut akan mendapat porsi yang utama untuk dibenahi. Menurut Bugi, hal itu merupakan salah satu misi filosofis yang dia usung yakni mewujudkan rakyat yang tidak menderita.

Selain itu Bugi juga menaruh perhatian bagi kelompok masyarakat marjinan yang selama ini kurang mendapat perhatian. Dia menegaskan GTT/PTT dan para awak huller menjadi prioritas yang harus diperhatikan karena menurut dia, elemen-elemen masyarakat banyak memberikan manfaat namun belum mendapat perhatian.

“Khusus untuk huller saya akan programkan, dalam 100 hari mereka sudah terbebas dari penangkapan-penangkapan. Sedangkan kepada para GTT/PTT kami akan memfasilitasi agar mereka bisa mendapatkan pengangkatan,” ungkap dia.

Lain halnya dengan Ahmad Yulianto, meski tidak menegaskan secara rinci apa yang diprogramkan dalam 100 hari, namun mantan kepala dinas pertanian ini mengaku terbuka dengan setiap kritik dan masukan. Jika kami terpilih, kami akan membuka rumah dinas selama 24 jam agar semua elemen masyarakat bisa menyampaikan masukan dan saran.

“Bahkan jika dianggap telah menyalahi aturan yang dikehendaki oleh masyarakat, kami siap untuk dijewer. Kami berprinsip, pemimpin itu hanyalah sebagai objek. Rakyatlah yang berperan sebagai subjek dan berhak mengingatkan pemimpin jika melakukan kesalahan,” ungkap dia.

Yuni Satia Rahayu, calon wakil bupati yang diusung oleh koalisi PDIP, PAN dan Gerindra mengatakan ada empat hal yang menjadi fokus perhatiannya jika terpilih untuk memimpin Sleman. Fokus tersebut antara lain adalah memperkokoh bangunan birokrasi, peningkatan kualitas layanan terutama dalam pendidikan dan kesehatan, pemberdayaan ekonomi rakyat dan peningkatan peran perempuan.

Untuk jenis kampanye yang dilakukan, Neni memilih untuk menghindari kampanye terbuka. Menurut dia, konsolidasi dan dialog dengan warga jauh lebih efektif. Dia berkeyakinan, parpol pengusung akan solid dalam memberikan dukungan.

“Bisa menyentuh angka 200 ribu sehingga berpotensi menang dalam satu putaran,” ungkap aktivis LSM yang konsen dalam dunia perempuan ini.

Sementara untuk kampanye sendiri, masing-masing kandidat punya cara tersendiri. Ada yang menjadikan kampanye rapat terbuka sebagai andalan, ada juga yang hanya menjadikannya sebagai selingan saja. Hafidh Asrom misalnya, mengatakan bahwa sekarang ini pihaknya lebih menghindari kampanye pengerahan massa.

“Namun hal itu memang sulit diwujudkan karena konstituen partai pendukung mengharapkan digelar rapat umum. Rencanaya baru akan dilakukan menjelang hari-hari terakhir kampanye. Untuk juru kampanye memang sudah ada beberapa nama yang disiapkan, diantaranya adalah Andi Malarangeng,” ungkap dia.

Purwanto Johan Riyadi, Ketua DPD Golkar Sleman juga tidak terlalu tertarik dengan kampanye rapat terbuka dalam pemenangan pasangan Zaelani-Heru Irianto Dirjaya. Namun karena adanya tuntutan dari grassroot, hal itu memang tak terhindarkan.

“Kami tetap mengutamakan sosialisasi dan konsolidasi dengan kader-kader kami langsung di grassroot. Namun karena konstituen juga mengharapkan adanya rapat terbuka, kami juga akan lakukan. Tokoh-tokoh yang sudah siap menjadi jurkam antara lain Tantowi Yahya dan Nurul Arifin,” ungkap dia.

Mimbar Wiyono, calon bupati yang mengusung bendera independen juga mengatakan tidak terlalu tertarik dengan kampanye terbuka. Blusukan ke desa-desa, kata dia menjadi pilihan bagi timnya karena dinilai lebih efektif dan biaya ringan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: