Pemilukada Sleman: 1 vs 4?

Perhelatan pemilukada Sleman kian mendekati babak final. Pada 23 Mei mendatang sekitar 780 ribu warga Sleman akan berbondong-bondong memberikan hak suaranya ke 1.200 tempat pemungutan suara (TPS) yang tersebar di 17 kecamatan.

Seperti diketahui Pemilukada Sleman akan diikuti oleh tujuh pasangan calon bupati/wakil bupati yakni Bugiakso-Kabul Mudji Basuki (1), Mimbar Wiyono-Cahyo Wening (2), Sukamto-Suhardono (3), Sri Purnomo-Yuni Satia Rahayu (4), Zaelani-Heru Irianto Dirjaya (5), Hafidh Asrom-Sri Muslimatun (6), dan Ahmad Yulianto-Nuki Wakhinudatun (7).

Calon boleh banyak, namun kian dekatnya Pemilukada, eskalasi politik di bumi sembada ini pun semakin terbaca dengan jelas. Tanpa mengecilkan popularitas Hafidh Asrom yang mencetak hattrick tampil dalam Pilkada, Sukamto yang didukung oleh koalisi 23 partai, dan Zaelani yang pluralis, Pemilukada langsung kedua yang digelar di wilayah paling utara DIY ini sesungguhnya hanya menjadi ajang pertarungan Bugi-Kabul dan SP-Neni.

Bugi-Kabul merupakan kandidat yang memiliki persiapan paling matang. Saat dua pasang calon independen lain masih sibuk dalam mengumpulkan dukungan minimal 32.940 warga, pasangan ini telah sibuk melakukan konsolidasi dan membentuk sel-sel pendukung loyal hingga ke dusun-dusun.

Saat Mimbar-Wenig dan AY-Nuki masih pontang-panting menambah kekurangan dukungan, pasangan ini sudah mulai bergerilya ke kampung-kampung. Ketika pasangan lain belum melakukan upaya pencitraan yang signifikan, Bugi-Kabul telah mendulang dukungan dari berbagai elemen masyarakat marjinal di markas besarnya.

Tidak hanya itu saja, pasangan ini juga banyak menerima limpahan dukungan dari pengurus-pengurus ranting partai lain yang tidak puas dengan DPC seperti dari PDIP dan Demokrat. Dua partai yang disebut, merupakan pemenang yang mendulang suara terbanyak di pileg lalu.

Didukung dana yang kuat, pasangan ini menjadi satu-satunya pasangan kandidat yang selalu menggunakan kesempatan kampanye terbuka yang dibagi dalam empat zona wilayah. Dalam 7 kesempatan, Bugi-Kabul selalu berhasil mengumpulkan massa dalam jumlah yang besar.

Sementara itu pasangan SP-Neni banyak diuntungkan oleh keadaan. Pasangan ini mendapat keuntungan dari posisi SP yang saat ini menjabat sebagai Plt Bupati Sleman. Disadari atau tidak, berbagai kesempatan maupun forum tatap langsung dengan masyarakat membuat SP menjadi calon yang paling dikenal oleh calon pemilih.

Selain itu, SP-Neni juga didukung oleh koalisi tiga partai yang cukup kuat yakni PDIP, PAN dan Gerindra.  Jika dihitung secara kasar, gabungan suara partai pengusung bisa lebih dari 30% suara yang sah dengan asumsi jumlah pemilih yang menggunakan hak pilihnya pada pileg lalu sekitar 600 ribu.

Hitungan kasar ini bahkan lebih besar lagi jika ditotal dari jumlah kursi ketiga partai di parlemen. PDIP, PAN dan Gerindra menguasai 17 kursi dari total 50 kursi di Sleman yang berarti bahwa partai gabungan ini menguasai 34% kekuatan parlemen.

Ditengarai, SP-Neni juga didukung oleh banyak pengusaha pragmatis. SP merupakan figur yang sederhana, namun anehnya untuk urusan pencitraan melalui media luar ruang, kandidat nomor empat ini memiliki alat peraga yang paling banyak. Tentu saja hal itu membutuhkan anggaran yang sangat besar.

Kontestasi keduanya terlihat semakin memuncak pada penyampaian visi-misi di DPRD Sleman 26 April. Keduanya tampak saling serang(www.wartasembada.wordpress.com). Bugi mengkritik kebijakan SP yang dinilai tidak pro pertanian dan pendidikan yang sebenarnya menjadi jati diri Sleman.

Karuan SP yang seharusnya menyampaikan visi dan misi malah terpancing untuk melakukan pembelaan dari kritik Bugi. Dia lantas memaparkan keberhasilan pemerintahan dalam satu tahun terakhir yang sebenarnya sudah dia sampaikan dalam LKPJ 2009 sebelumnya.

Bagaimana dengan peluang calon lainnya? Semuanya masih memiliki peluang yang sama. Hafidh sebenarnya sejak awal diprediksi menjadi lawan yang paling tangguh bagi SP-Neni. Namun kekuatan pendukung HM, yang dimotori oleh Demokrat banyak yang lompat pagar mendukung calon lain sehingga membuat pasangan ini sedikit melemah.

Pengumuman harta kekayaan para kandidat yang dilansir KPU dari KPK pada 3 Mei lalu ditengarai ikut mempengaruhi citra Hafidh. Bagaimana tidak, juragan mebel yang bernaung dalam bendera Asram Grup ini dinyatakan memiliki kekayaan minus sebesar Rp2,9 miliar.

Karuan saja, pengumuman tersebut membuat kubu HM panik, sampai-sampai tim sukses Hafidh merasa perlu untuk melakukan klarifikasi. Tim sukses HM yang diwakili Imam Muharor membuat pembelaan bahwa aset perusahaan milik Hafidh sebenarnya mencapai angka Rp18 miliar.

Beberapa hari kemudian kompatriotnya juga melakukan hal yang sama. Sri Muslimatun yang dinyatakan KPK hanya memiliki kekayaan sebesar Rp1,6 miliar mengklaim memiliki harta kekayaan sebesar Rp19 miliar dari hasil perjuangannya membesarkan RS Sakina Idaman.

Kandidat lainnya, Sukamto, ditengarai dipasang menjadi pemecah suara Hafidh dari kalangan nahdliyin. Sama seperti dua pilkada sebelumnya, Sukamto selalu hadir sebagai pengganjal kemenangan Haifdh. Sebenarnya Hafidh sudah berusaha menyingkirkan Sukamto saat masih dalam proses pencalonan.

Kala itu Hafidh juga mendapat SK dari DPP PKB, meskipun dalam proses seleksi yang dilakukan oleh DPC Sukamto yang mendapat kemenangan. Namun Sukamto melakukan perlawanan SK DPP dengan tetap nekat mendaftar ke KPU dengan menggunakan bendera PKB dan didukung oleh koalisi 22 partai lainnya.

Lantas siapakah yang akan berjaya dalam Pemilukada kali ini? Faktor penentunya cukup komplek. Para kandidat wajib merapatkan barisan dan menjaga konstalasi perjuangan tetap kondusif. Mesin politik wajib dijaga agar tetap panas dan amunisinya bertahan hingga proses pencoblosan.

Pencitraan para kandidat pada hari-hari terakhir juga akan cukup membantu mereka menanamkan kesan yang bagus bagi calon pemilih. Di era demokrasi yang modern, pencitraan menjadi salah satu faktor terpenting baik melalui media maupun melalui sosialisasi langsung.

Money politics? Hmmhh…., mungkin itu juga adalah salah satunya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: