Survei tak bisa jadi patokan utama

Keberadaan polling atau survei tentang popularitas dan tingkat keterpilihan para kandidat yang bersaing dalam Pilkada tidak bisa dijadikan sebagai patokan yang menentukan siapa kandidat yang akan unggul.

Jajak pendapat tentang preferensi masyarakat terhadap suatu kandidat dalam Pilkada, dengan berbagai kepentinggan yang melekat membuatnya jadi tidak bebas nilai. Karena itu bisa dipastikan tanggapan publik soal terhadap suatu polling atau survei juga cenderung beragam.

Peneliti pada Pusat Studi Islam Universitas Islam Indonesia (PSI-UII) Muhammad Latif Fauzi mengatakan, para pengamat politik dan akademisi cenderung menafikan dan tidak percaya pada hasil survei yang menggambarkan kecenderungan pilihan publik baik pada tokoh maupun partai politik. Argumen penolakan itu, kata dia, lebih karena faktor metodologi yang dipakai dan validitas data yang didapat.

“Fenomena ini kendati demikian menjadi berubah ketika sebuah lembaga survei dapat membuktikan ketepatan prediksinya. Bahkan dengan metode hitung cepat (quick count) dengan tingkat presisi yang cukup tinggi, survei dapat cepat memberi kesimpulan siapa yang menang,” ujar dia.

Namun bagi Latif, tidak ada juga salahnya jika hasil survei kemudian dijadikan sebagai acuan utama dalam memilih siapa kandidat yang dianggap layak untuk diusung dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada). Dan tentu, ini bukan soal ilmiah atau tidak ilmiah.

Latif lantas mengomentari hasil survei yang dilakukan oleh Lembaga Poling Independen (LPI) yang menunjukkan pasangan Bugiakso – Kabul mendapat pilihan terbanyak (38,47%). Menurut dia, ada beberapa hal yang dapat dipertimbangkan menanggapi hasil survei tersebut.

“Pertama, layanan SMS sebagai alat survei memang bisa diragukan akurasinya. Masalahnya terletak pada apa jaminan satu responden hanya mengirim satu SMS di saat dia bisa memiliki beberapa nomor. Kedua, penentuan sampel atas populasi semua pemilih dalam Pilkada Sleman tidak terlalu jelas,” ungkap dia.

Menurut dia, kriteria yang digunakan dalam sampling, lokasi misalnya, sangat menentukan hasil yang didapat. Karena suatu pasangan biasanya memiliki basis masa di daerah tertentu. Ketiga, tidak jelas variabel apa yang digunakan untuk mengukur dasar pertimbangan masyarakat memilih para kandidat itu, misal program, karakter, atau kepribadian.

“Terlepas dari itu semua, hasil jajak pendapat ini dapat dijadikan sebagai bahan untuk membaca keberterimaan dan pilihan masyarakat terhadap kandidat,” tegas dia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: