Panwas segera rapat pleno

Panitia Pengawas (Panwas) Pilkada Sleman akan menggelar rapat pleno terkait adanya dugaan money politics dalam perhelatan pilkada yang digelar pada 23 Mei lalu.

Ketua Panwas Pilkada Sleman Sunardi mengatakan pihaknya menjadwalkan rapat pleno untuk mengambil keputusan soal dugaan tersebut akan dilakukan dalam satu atau dua hari ini. Pleno belum bisa digelar, kata dia, karena anggota belum lengkap.

“Saat ini salah satu anggota Panwas masih di luar kota. Kalau dia sudah datang, pleno akan segera digelar,” ujar dia kepada Harian Jogja, Selasa (1/6).

Menurut Sunardi, pleno merupakan tahap prosedural yang harus dilewati oleh Panwas sebelum membuat sebuah keputusan. Dikatakan, pihaknya sudah menundang sejumlah saksi baik dari pihak pelapor maupun terlapor.

“Rapat pleno itu nantinya akan memutuskan apakah kasus itu layak diteruskan ke kepolisian atau tidak,” ungkap Sunardi.

Seperti diketahui, pasangan indepenen yang kalah, Bugiakso-Kabul (BK) menuding kemenangan pasangan incumbent yakni Sri Purnomo-Yuni Satia Rahayu melakukan sejumlah kecurangan.

Kuasan Hukum tim BK Abdurachman mengatakan kecurangan tersebut menyangkut hukum pidana maupun melanggar UU No 32/2004 tentang pilkada. Oleh karena itu, pihaknya memutuskan untuk membawa temuan dugaan money politics tersebut ke ranah hukum, baik KPK, Kejaksaan maupun kepolisian.

Bukti pelanggaran tersebut didapat tim BK dari laporan masyarakat terkait pengumpulan warga ke kantor kelurahan. Salah satu warga yang melapor tersebut ialah Bengo Sucipto, warga Mriyan, Margomulyo, Seyegan, Sleman. Dalam penuturannya, Bengo diundang ke kantor Kelurahan oleh pemerintah desa setempat melalui surat undangan pada 19 Mei lalu.

Sesampainya di kantor kelurahan, sudah ada 100 warga yang lainnya. Disana mendapat penjelasan mengenai program pembangunan desa. Namun, setelah pulang diberikan amplop oleh perangkat desa yang ternyata berisi uang Rp 30 ribu dan kartu nama pasangan SP-Yuni.

Selain itu pihaknya juga memiliki banyak saksi kami yang mendapat amplop dari para pengkat desa pada tanggal 21-21 Mei lalu. Padahal, kata dia, itu adalah masa tenang, namun digunakan untuk bagi-bagi uang. Menurut Maman,  hal itu jelas merupakan pelanggaran sehingga pemilihan harus diulang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: