Kerajinan batu alam mengalami kelesuan

Seorang pekerja batu alam di UD Batu Mukti sedang melakukan pemotongan batu candi. Bisnis batu alam di sentra Sambirejo dalam tiga bulan terakhir ini mengalami kelesuan.

Usaha kerajinan batu alam yang menjadi andalan pengrajin di sentra Sambirejo, Prambanan dalam tiga bulan terakhir mengalami kelesuan. Penjualan batu-batuan yang biasanya dipakai untuk kelengkapan bangunan itu mengalamai kemerosotan hingga 30%.

Menurut Mulyono, salah satu pengusaha batu alam yang telah menggeluti usah ini sejak tahun 1975, penurunan penjualan tersebut terjadi sejak tiga bulan terakhir. Dia memperkirakan, kelesuan permintaan itu terjadi karena dampak krisis global.

Dikatakan, dalam kondisi normal pemesanan batu alam bisa mencapai 2.000-2.500 meter persegi. Namun sejak tiga bulan terakhir, kata dia, penjualan aneka batuan tersebut merosot drastis menjadi hanya 500 meter persegi saja.

Pria berusia 53 tahun ini mengatakan ada delapan jenis batu alam yang menjadi komoditas utama perajin di sentra Sambirejo yakni batu candi, batu putih, batu kuning, breksi serat, breksi trotol, batu hijau, andesit, dan trotol tekek.

“Yang paling banyak dipesan biasanya adalah batu candi dan batu putih. Biasanya digunakan untuk pelapis dinding dan lantai,” ujar dia saat ditemui di  tempat kerjanya, Senin (14/6).

Mulyono menuturkan, sebenarnya pasar yang dia bina sejak lama sudah cukup mapan. Untuk tataran lokal, dia rutin mengirim ke Bali, Jakarta, Semarang, Surabaya dan Bandung. Tidak hanya itu saja, batu alam yang diproduksinya juga telah menembus pasar ekspor yakni ke Malaysia, Korea Selatan, Spanyol, Australia, dan Swedia.

Diceritakan, jika dalam kondisi normal, ekspor ke luar negeri bisa mencapai 4-5 kontainer dalam satu minggu. Rinciannya batu alam yang tebal bisa memuat 175 meter persegi, sedangkan batuan yang tipis bisa disusun sekitar 400-500 meter persegi dalam satu kontainer.

“Sekarang cenderung sudah berkurang. Saya diuntungkan dengan pelanggan-pelanggan yang sudah kenal baik dengan saya. Pengrajin-pengrajin yang lain banyak yang sudah tidak berproduksi karena tidak mendapat order,” ungkap pemilik Batu Mukti ini.

Kendala lain yang dihadapi oleh pengrajin menurut Mulyono adalah kelangkaan bahan baku. Untuk jenis batu candi, dirinya memasok bahan dari gunung Merapi. Bahan baku, kata dia, semakin lama semakin sulit untuk didapat.

“Jumlahnya kan tetap, sementara pasokan bahan baku rutin dilakukan,” ungkap dia.

Mulyono berharap agar pemerintah memperhatikan nasib para pengrajin batu alam tersebut. Menurut dia, dalam kondisi krisis seperti ini, pengrajin mengalami kesulitan dalam permodalan. Menurut dia, dia dan rekan-rekannya menginginkan adanya pinjaman dengan bunga yang ringan sehingga bisa digunakan sebagai modal untuk menyetok bahan baku.

Seorang pekerja batu alam di UD Batu Mukti sedang melakukan pemotongan batu candi. Bisnis batu alam di sentra Sambirejo dalam tiga bulan terakhir ini mengalami kelesuan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: