Produksi panen raya mengalami penurunan

Panen raya di Madurejo

Produksi panen raya yang dilakukan dua kelompok tani (Poktan) di Madurejo, Prambanan yakni Sedya Rukun dan Tanem Tuwuh mengalami penurunan dibanding hasil panen periode sebelumnya.

Jika pada periode panen sebelumnya para petani di Madurejo masih bisa mendapatkan hasil 11,2 ton per hektar, kali ini hasil panen turun drastis menjadi 8 ton per hektar saja.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Madu Makmur Madurejo Supardi mengatakan penurunan panen tersebut disebabkan oleh kondisi cuaca yang tidak menentu. Selain itu, kata dia, dipengaruhi pula oleh serangan hama seperti serangga pengerat dan wereng.

Menurut dia, dampak yang ditimbulkan oleh cuaca yang tidak menentu adalah pada kualitas buliran padi yang dihasilkan. Curah hujan yang terlalu banyak menyebabkan tidak semua buliran padi terisi.

“Buliran-bulirannya banyak yang tidak terisi penuh,” ujar dia kepada Warta Sembada di sela-sela panen raya, Kamis (8/7).

Dikatakan, sebenarnya teknologi yang digunakan sudah cukup memadai yakni menggunakan varietas unggul bermutu Inpari 10 dan Ciherang, bibit berumur muda, pupuk organik 2-6 ton per hektar, pengairan berselang, pengendalian gulma terpadu dan pengendalian hama dan penyakit secara terpadu (PHT).

Namun usaha-usaha yang dilakukan tersebut, kata dia, masih belum menunjukkan hasil yang maksimal. Perubahan cuaca, tambah Supardi, ternyata berdampak cukup signifikan. Untungnya, kata dia, serangan wereng belum terlalu signifikan di daerahnya.

“Kalau wereng sudah sampai sini, bisa-bisa produksinya tambah turun lagi,” ungkap dia.

Penyuluh Dinas Pertanian DIY Nugroho Adi mengatakan menurut riset Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP), selain disebabkan hama dan cuaca, dalam setiap panen terjadi kencederungan penurunan produksi padi antara 15-20%.

Hal ini, kata dia menjadi kontraproduktif dengan upaya pemerintah yang sedang menggalakkan gerakan panen raya. Dalam setiap panen, kata dia, pemerintah menargetkan terjadi peningkatan produksi 5% dibanding panen sebelumnya.

Menurut Nugroho, penurunan jumlah produksi tersebut sebenarnya terjadi karena hal-hal yang sepele misalnya saja penentuan masa panen, pemilihan arit saat memotong padi, atau juga saat membindahkan hasil panen.

“Petani disarankan menggunakan arit yang bergerigi saat memotong padi. Selain itu diharapkan hasil panen diolah di tempat saja, tidak perlu dibawa pulang,” ungkap dia.

Panen raya Poktan Sedya Rukun dan Tanem Tuwuh ini dihadiri antara lain Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Sleman Riyadi Martoyo, Kepala Bidang Hortikultura dan Tanaman Pangan Edy Sri Harmanta, Penyuluh Dinas Pertanian DIY Nugroho Adi, dan Kepala Desa Madurejo Mindoyo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: