Petani-kelompok ikan harus duduk bersama

Para petani dan pembudidaya ikan harus bisa duduk dalam satu forum untuk mencari penyelesaian kelangkaan air.

Kabag Pembangunan Pemdes Sedangtirto, Berbah Muhammad Arif mengatakan memasuki musim kemarau seperti sekarang ini keberadaan air memang semakin langka. Hal itu menjadi masa-masa yang krusial karena berpotensi menimbulkan konflik antar para petani dengan kelompok pembudidaya ikan.

Dalam menghadapi persoalan tersebut, Arif mengatakan petani dan kelompok ikan harus duduk bersama. Pada prinsipnya kedua kelompok tersebut sama-sama membutuhkan air sehingga mau tidak mau keduanya harus tetap saling menghargai.

Dikatakan, pada dasarnya irigasi awalnya digunakan dalam kapasitas untuk keperluan pertanian. Namun belakangan penggunaannya menjadi meluas seiring dengan banyaknya petani yang kemudian beralih menjadi pembudidaya ikan. Apalagi Kecamatan Berbah baru-baru ini telah ditetapkan oleh Pemkab sebagai zona Minapolitan.

Untungnya, kata dia, sampai sejauh ini belum pernah terjadi konflik di antara kedua kelompok tersebut. Pemdes, kata dia, selalu berusaha untuk menengahi setiap ada persoalan yang dihadapi oleh kedua belah pihak. Keberadaaan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A), kata dia, memiliki peran yang cukup vital dalam membagi air.

Ketua Komisi C DPRD Sleman Sugiyarto Sastro Sanjoyo mengatakan jika tidak ingin terjadi konflik, masing-masing pihak harus bermusyarawah. Kelompok ikan, kata dia, pada dasarnya hanya meminjam air dari saluran irigasi, setelah itu harus dikembalikan lagi untuk kepentingan pertanian.

“Mau tidak mau harus diatur sehingga tidak menimbulkan masalah,” ungkap dia.

Dikatakan, pada musim kemarau seperti ini, kelangkaan air memang kerap menimbulkan permasalahan. Sayangnya embung-embung penyimpanan air di Sleman masih sangat sedikit. Padahal, kata dia, idealnya tiap kecamatan setidaknya memiliki dua embung.

Embung yang ada pun, tambah Sugiyarto, hingga saat ini masih belum berfungsi secara optimal. Dia mencontohkan, di Minggir, masih terjadi kebocoran embung yang ada di daerah tersebut sehingga pengaturan air tidak maksimal.

Dikatakan, persoalan tersebut dihadapkan pada kendala klasik yakni dana yang minim. Karena itu, kata dia, pihaknya berupaya untuk melobi pemerintah pusat sehingga embung-embung yang ada di Sleman bisa didanai oleh pemerintah pusat seperti embung Tambakboyo.

“Dalam anggaran perubahan, tidak ada alokasi untuk embung,” kata legislator Demokrat tersebut.

Tindakan riil yang bisa dilakukan, kata Sugiyarto, adalah efisiensi penggunaan air. Penduduk, kata dia, sebaiknya tidak menggunakan air irigasi untuk keperluan rumah tangga. Di beberapa wilayah di Sleman Barat, kata dia, hal itu sudah dilakukan.

“Warga menyedotnya dari kali Progo,” ungkap legislator paling senior di DPRD Sleman ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: